Cerita Pandemi : Idul Adha Kedua Masa Pandemi

Selamat Idul Adha bagi yang merayakan. Mohon maaf lahir batin. Agak terlambat ngucapin tapi memang sengaja untuk melakukan summary atas satu hari istimewa itu.

Berhubung masih PPKM Darurat, sebaiknya Idul Adha #dirumahsaja. Meskipun begitu ada juga yang masih sholat di mesjid. Saya sendiri nggak tahu apakah itu memang diijinkan dengan batasan, tapi entah pengaturannya bagaimana.

Tema khotbah hari ini adalah tentang pentingnya IQ, EQ dan SQ bagi umat muslim. Menarik sih. Masing-masing punya istilahnya sendiri dalam bahasa Arab. Jadi ceritanya nggak bisa kita hanya gede skor di salah satunya. Harus imbang.

Suasana Idul Adha tetap terasa, karena ketika angin berhembus, baunya…bau kambing! Pff…

Dalam menghabiskan hari, ketimbang membaca berita aneh-aneh yang malah bikin sutrisno, banyak kepala yang malah menanti video hebohnya sapi lepas seperti tahun lalu. Astaga! Segabut itulah orang di masa PPKM Darurat!

Yang lebih serius lagi menunggu apakah ada berita perpanjangan PPKM Darurat resmi dari Presiden. Kebetulan Idul Adha ini berbarengan dengan berakhirnya masa PPKM Darurat. Ada yang bilang diperpanjang, tapi belum resmi.

Ternyata diperpanjang. Beritanya di malam hari.

Tapi agak berbeda dengan yang beredar, yang bilang sampai tanggal 30 Juli. Ini sampai 25 Juli saja. Sepertinya terjadi negoisasi alot dengan pihak-pihak yang berkepentingan, ya.

Baiklah.

Ada juga berita-berita bikin sebel. Namun dialihkan segera kepada berita-berita kurban sapi Idul Adha. Lebih relevan dengan tema hari ini.

Sesuatu yang diam-diam saya perhatikan. Sekarang kita, mungkin orang-orang di sekitar, cenderung memilih untuk tidak memikirkan masa depan yang terlalu jauh. Paling panjang cukup dua tiga hari kedepan. Dan terutama hari ini. Hari ini bisa dilalui dengan baik itu saja targetnya.

Benar-benar mirip film seri Lost.

Pada akhirnya ya insting dasar kita adalah ……self-preservation. Supaya tetap bertahan hidup. Cara berpikir cukup untuk hari ini tentu adalah hal yang benar-benar baru, terutama bagi para perencana segala.

Bagaimana rasanya? Ya, lebih rileks dan fokus saja. Mungkin ini namanya terpaksa mindfulness. Hahaha. Ada kalanya kita jadi lebih bahagia bila tidak memikirkan masa depan lho. Lihatlah cara berpikir orang-orang yang jauh lebih sederhana atau cara berpikir anak-anak.

And that’s a wrap…

Mari kita jalankan PPKM 2.0 dengan bersemangat!

Note : ada tambahan, namanya sekarang PPKM Level 4. 🤪

2 tanggapan untuk “Cerita Pandemi : Idul Adha Kedua Masa Pandemi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s