Menyikapi Kasus Pelecehan Seksual

Dimulai dari curhat seorang fans di medsos yang merasa mengalami pelecehan saat minta foto bareng idolanya. Curhat ini berujung menjadi trending topic yang berujung tertuduh hendak membawa ybs. ke jalur hukum.

Sayang sepanjang jalan kenangan, tidak sedikit juga mereka yang meragukan perkataan korban karena minim bukti. Netizen masih mengingat kasus serupa yang ujungnya ternyata blunder dan terbukti salah.

Akhirnya korban seperti dipojokkan.

Apa yang idealnya bisa dilakukan dalam menyikapi curhat kasus pelecehan seksual?

Lepas dari apakah kita ragu akan kebenarannya, paling benar perlu berempati atau minimal bersikap netral / mendengarkan.

Selalu ada azas praduga tidak bersalah atau penelusuran kasus. Tapi itu bisa sambil jalan. Yang nomor satu baik dilakukan, ya seperti diatas itu.

Logikanya kalau dugaan itu benar, maka kita tidak menimbulkan damage baru bagi korban, yang menyebabkan banyak korban perilaku serupa lain takut untuk speak up. Karena secara psikis diantara tertuduh dan korban, yang lebih mengalami rasa sakit adalah korban.

Memang terdengarnya tidak adil bagi tertuduh, karena dalam banyak kasus, ada juga yang alami tuduhan palsu. Ini ibarat memilih the lesser of two weevils. Makanya fokus ke dukungan dan pemulihan mental korban, bukan fokus menyerang tertuduh, jauh lebih penting.

Atas pertimbangan itu, tidak heran juga untuk level pelaku usaha atau bisnis, juga memilih jalur serupa ini yaitu mendukung korban. Bisa jadi PR nightmare bila sebaliknya yang dilakukan. Saat sudah ada bukti-bukti yang sahih, bila yang terjadi adalah tuduhan itu tidak benar, setidaknya banyak pihak yang bisa jadikan ini pelajaran, tanpa harus menanggung resiko membuat mental korban menjadi semakin buruk.

Untuk sementara waktu, apa yang bisa dipelajari dari kasus ini?

Bila di posisi tidak bisa membela diri, tindakan sesegera mungkin mengumpulkan bukti dan saksi mata sangat krusial. Termasuk melaporkan kasus kepada orang terdekat atau otoritas. Jangan tunda sampai lama.

Kenapa jangan pakai lama? Karena keburu saksinya hilang atau lupa akan segala peristiwa. Belum barang bukti lain yang butuh visum, misalnya.

Pernah saya gunakan cara lekas proses ini saat alami insult secara verbal dengan bahasa yang menjurus.🀬 Saya kumpulkan saksi, minta nomor kontaknya, lalu lapor pada otoritas yang bersangkutan. Nggak usah dipikirkan dulu nanti mau ditanggapi bagaimana, yang penting ini sudah jadi catatan peristiwa bagi beberapa orang dulu. Dan yang penting dengan tindakan, bisa mencegah trauma berkelanjutan karena perasaan kesal tidak berdaya. Kita ini berdaya lho, dengan usaha membela diri sendiri. Itu sangat terhormat bukan?

Maaf, cuma bisa share pengalaman yang verbal. Karena yang main fisik, biasanya saya cenderung langsung melawan di TKP dengan kamehameha.πŸ˜… Lebih efektif dan bikin kapok. Namun saya mengerti, itu tidak bisa untuk semua orang, kecuali mereka yang paham bela diri. Tapi cara diatas tetap bisa diterapkan juga untuk yang main fisik, kok.

Sebagai perempuan, bukan hal baru bila ada bentuk-bentuk pelecehan seksual dalam keseharian. Contoh paling ringan, catcalling. Saking biasanya banyak yang malas nanggapin. Menormalisasi. Padahal kalau dihadapi secara frontal orangnya rata-rata jiper dan kabur. Apalagi kalau dibilang, mau nggak ibunya, saudarinya, di cat call juga sama orang lain?πŸ˜… Mingkem deh. Laki-laki tahu persis, kok, kalau salah menghadapi perempuan yang berani melawan dan di hadapan mereka ada banyak orang, mereka jarang dibela. Yang ada malah jadi bahan tertawaan.πŸ˜…

Jadi perempuan (mungkin laki-laki juga kalau dilecehkan) harus hati-hati karena makin kemari makin banyak yang kelakuannya kok mesum.

Mungkin makin banyak orang yang pre-frontal cortex nya sudah rusak karena kebanyakan nonton bok3p, yang mudah diakses di jaman internet.

Baca : Kecanduan Pornografi

Entahlah, perlu ada penelitian soal itu di Indonesia. Namun selama belum ada riset dan solusi, memang ada baiknya bersikap preventif. Hidup di Indonesia tentu sangat berbeda dengan hidup di negara maju. Salah satu sikap preventif adalah dengan menjauhi tempat-tempat beresiko. Atau waspada perilaku beresiko. Logikanya, di tempat biasa dengan mereka yang berperilaku normal saja masih suka kejadian, apalagi di tempat rawan. Probabilita jadi target jauh lebih besar.

Ya, realistis saja, bukan idealis dulu.😧 Lihat sikon.

Ibarat kita mau menyebrang di sebuah jalan raya, yang para pelaku jalannya lagi pada nyetir sambil mabuk. Nggak bisa saat itu kita nekad jalan ke tengah sambil berkata lantang, seharusnya saya bisa menyebrang dengan aman, ini kan hak saya. Kalian yang harusnya tertib! Duh. Yang ada bisa kelindas duluan. Lebih bijak, bila kita cari jalan aman dulu untuk menyebrang. Kalau diri sudah selamat mau mempermasalahkan apa saja dan berstrategi ‘kan lebih mudah. Preventif selalu lebih bagus dari mengobati.

Apakah kamu ada cerita tentang hal serupa?

2 tanggapan untuk “Menyikapi Kasus Pelecehan Seksual

  1. waktu ngikuti kasus ini, aku sempat baca ada yang ngetwit, “kayanya semua perempuan di Indonesia pernah mengalami pelecehan seksual (minimal verbal, disiutin)”.. brengseknya, pelaku banyak juga orang terdekat atau orang yang harusnya melindungi.. istriku juga mengaku pernah mengalami pelecehan yang dilakukan oleh seorang guru.. istri tidak berani melapor, karena bisa saja nilainya buruk atau konsekuensi lain yang menyalahkan korban.. sebobrok itu memang sistem di Indonesia.. 😫

    teman yang lain, malah ekstrim. dia pernah di-catcalling remaja tanggung di jalan.. “cewek.. cewek..”, teman saya tersebut nengok, dan mendatangi, “ya? ada apa?” dengan muka serius.. remaja tadi langsung mingkem, plegak-pleguk.. kayak monyet kena batu.. rasain.. memang harus dibegitukan menurutku, biar gak jadi kebiasaan.. tapi tentu saja, tidak semua orang punya nyali seperti temanku ini..

    Disukai oleh 1 orang

    1. Prihatin atas yang terjadi pada istrinya mas Zam. Jahat sekali ya memanfaatkan posisi.

      Hahaha kapok deh itu remajanya. Untung yang disuitin bukan polwan. Pernah ada polwan dicolek saat sepedaan langsung bonyok cowoknya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s