Merapikan adalah Sebuah Seni

Lama nggak ngomongin soal declutering alias beberes.πŸ˜ƒ

Menurut aku decluttering itu kesannya mudah, tapi tidak bagi orang-orang tertentu. Banyak diantara mereka yang beberes, tapi kemudian berantakan lagi. Lagi dan lagi. Bagaimanapun berusahanya tetap kelihatan berantakan.

Sebetulnya decluttering itu seni. Seni beberes atau berbenah. Berdasarkan pengalamanku, kalau belum tahu seninya ya akan tetap kelihatan clutter.

Sebagai contoh permukaan meja yang luas. Permukaan itu kalau penuh barang akan kelihatan penuh dan menumpuk. Kuncinya sesedikit mungkin barang sehingga bisa tampak estetik. Kalau bisa barangnya juga cakep dan “nyambung” dengan tema ruangan sebagai point of interest mata.

Jadi enggak boleh malas memasukkan barang ke laci atau lemari, ya. Nah, kalau penuh jadi nggak muat gimana? Well, artinya tempatmu sudah menjerit kepenuhan barang, it’s time to discarding! Keluarin barang-barangnya yang sudah tidak diperlukan atau menyenangkan, caranya bisa dijual, sumbangkan, atau masuk tempat sampah. πŸ™‚

Kenapa tempat tinggal kita lama-lama penuh?

Karena kita dan masyarakat dunia umumnya, dibombardir oleh banyak iklan untuk beli barang yang sebetulnya nggak perlu. Seperti barang-barang murah dari Cina.

Atau kasus tinggal serumah dengan kerabat yang memang tidak hobi buang barang. Biasanya rumah orang-orang tua sekian generasi. Kalau mereka tipikal yang hobinya ngumpulin barang atau menganggap semuanya kenangan……..repot! πŸ€ͺRumah jadi mirip gua Aladdin ketimbang tempat tinggal nyaman. Ruangan sebesar apapun akan jadi sempit dan sumpek.πŸ˜…πŸ˜¬

Kita semua pelan-pelan akan menua. Begitupula fleksibilitas untuk mengubah habit alias kebiasaan. Makanya jangan sampai deh tidak punya kebiasaan untuk keluarkan barang secara rutin setiap ada yang masuk (atau berhenti masukin barang). Akhirnya akan repot sendiri nanti, atau merepotkan orang lain yang mengurusi barang kita kelak (anak, ahli waris, dsb).

Lagi-lagi berdasarkan pengalaman dan melihat orang lain juga, aku menyimpulkan semakin minimalis isi rumah semakin mudah dibersihkan dan kelihatan rapi. Saking mudahnya bahkan mungkin kamu tidak butuh asisten!

Sebagai contoh, bila anggota keluargamu ada delapan dan piring yang tersedia setiap makan hanya delapan untuk setiap orang (di luar piring hidangan), maka setiap orang akan mencuci bagiannya masing-masing. Mudah kan?

Tapi kendalanya adalah bila dalam satu rumah kamu satu-satunya yang paham seni bebersih😡! Nah kalau gitu, solusinya cuma satu : ciptakan kejutan psikologis! ✊⚑

Jadi di awal kita bantu anggota satu atap itu untuk berbenah tapi bantuinnya wajib to the maks hingga kontras perubahan ruangannya besar (dengan barang jauh lebih minimalis). Biasanya ybs. akan langsung merasa shock, nyaman dan ogah balik ke masa jahiliyah gua Aladdin. Kita paling cuma perlu rutin ngingetin, dengan cara alus, supaya mereka nggak “ketarik” ke kondisi di masa lalu lagi.

Kalau seseorang masih awet suka berantakan, yah mungkin :

1. Saat kita bantu membereskan, efek maksimum dari suasana nyamannya belum menghajar.

2. Di awal kurang ada kebutuhan atau motivasi berupa bayangan akan ruangan bersih idealnya.

3. Punya masalah psikis (depresi, hoarder).

4. Masih belum mengerti caranya merapikan.

Yang pertama, harus diusahakan kerapian yang lebih nendang.

Yang kedua, di awal beberes, orangnya harus punya gambaran dulu suka kerapihan model gimana. πŸ™„

Yang ketiga, cari tahu sumber masalah dan pecahkan (atau kalau parah banget, konsul ke ahlinya).

Yang terakhir, harus konsisten ajarkan prinsip-prinsip decluttering (kebanyakan kasus adalah anak-anak).

Aku, dalam hal decluttering, menggunakan banyak metode. Mungkin ke depan cuma pakai satu saja. Prinsip semuanya cuma satu : hanya simpan barang-barang yang bakal kamu bawa bersama bila suatu hari tiba-tiba harus pindah rumah! Termasuk barang-barang yang mudah di keluarkan kapanpun kamu butuhkan…..tidak pakai lama.

Misal, beberapa waktu lalu aku menjual seperangkat peralatan yang jarang aku pakai dan sewaktu beli aku tahu harga jualnya bakal bagus. Nggak ada hitungan minggu langsung ludes!

Kalau hobi belanja.. well tutup semua kanal yang bikin mupeng belanja. Hapus apps online shop. Mungkin agak tricky, karena para penjual barang dan merchant punya 1001 macam cara untuk beriklan sampai data kita pun rela dibeli.

Hindari cuci mata di mall atau tempat yang banyak iklannya. Kurangi bergaul dengan maksimalis atau komunitas yang hobi saing-saingan harta benda.

Aku dulu hobi banget belanja buku.πŸ€ͺ Sekarang, beli satu saja bakal ingat sengsaranya bersihin tumpukan buku berikut debu-debu yang dihasilkan. Serta tempat yang diambil mereka dengan rakusnya! Semakin kemari dalam sebulan aku sudah level 0 masukin buku ke rumah. Thanks to kindle, apps, dan internet juga. Kalaupun terpaksa beli karena kebutuhan, harus ada yang keluar !🀨

Jadi bukan bakat-bakatan sebetulnya.πŸ˜’ Tapi soal motivasi. Mau nggak bikin hidup aku lebih nyaman? Kalau mau belajar caranya dan….ubah habit. Nggak usah banyak-banyak, satu saja dulu. Nanti itu akan jadi bola bilyard putih buat habit yang lain-lain.

Buat kamu yang merasa frustasi karena diri ingin bersih minimalis tapi tidak berdaya karena kondisi, nggak usah khawatir, akan ada waktunya dimana kamu dapat AHA moment, serta ketemu cara atasi masalah.πŸ˜ƒ

Kadang kita harus mencapai dasar dulu, yaitu berada dalam kondisi clutter atau maksmimalis yang kebangetan, hingga hati akan capek sendiri dan mikir,

“Ok, that’s it! I had enough!”

Kayaknya ada yang salah, deh dengan cara hidup disini..πŸ˜‘πŸ˜£

Saat perasaan itu meledak, manfaatkan energi yang ada sebagai bahan bakar untuk memotivasi dan memutar otak bagi strategi declutter dan discardingmu.πŸ€›βœŠπŸ‘ŠπŸ€œ

Begitupula prinsip bebersih. Mulai dari satu ruangan dulu dan pertahankan kerapihannya selalu. Itu akan jadi inspirasi bagi orang lain (dan ruangan lain yang menyusulnya). πŸ˜„

Kamu mau share pengalaman juga?

6 Comments

  1. Kak Pheb, mohon maaf lahir dan batin duluu πŸ™πŸ» maaf kalau ada salah-salah kata selama ini yaaaa.

    Baru banget aku selesai baca bagian buku yang ngebahas soal ini, di buku tsb ditulis kalau Clutter is Costly, jadi semakin berantakan suatu area, jadi semakin banyak hal yang harus dikorbankan dari mulai tenaga dan waktu untuk rapihin sampai uang untuk maintenance. Kayaknya Kak Pheb udah baca buku ini dehh, buku Digital Minimalism hahaha.

    Soal mengurangi doyan belanja, dulu aku sampai hapus app marketplace biar nggak sering keracunan beli pernak-pernik 🀣. Terus lama-lama bisa kontrol sendiri dengan cara masukin barang yang dipengin ke keranjang belanja terus ambil waktu jeda untuk mikir, dengan ngelakuin hal ini, dorongan belanja impulsif jadi berkurang jauh buatku wkwk.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Eaa sama-sama mbak Lia. Lho?Perasaan kemarin kita sudah bermaaf-maafan deh. Tapi gak apa-apa sekali lagi hihihi…

      Wah itu buku sudah daku baca sejak lama mba, kayaknya perlu dibaca ulang lagi karena kadang lupa juga. Memang bagus banget bukunya. Cuma setelah baca jadi keringet dingin ingat harus declutter juga gadget dan online world wkwkwk..

      Saya nggak ada app marketplace di HP, kalau ada di tempat lain pun berusaha supaya isi keranjang belanjanya 0, soalnya kalau intip-intip bisa tergoda dengan isi keranjang, mbak Lia hahaha…Lumayan sih…

      Suka

  2. aku termasuk yang hobi banget ngumpulin barang-barang.. hedeh.. mikirnya, ini nanti bisa dipake pas butuh.. atau terus pas dibuang, eh tibalah saat itu, butuh lalu “menyesal”..

    soal belanja begini, terakhir ku beli barang ga penting adalah hiasan kucing penyembah peti mati itu.. ngga berguna, tapi lucu… wkwkwk..

    secara teori, memang kesannya gampang yak.. tapi pas dijalani.. hedeeh.. sulitnya…

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s