Cerita Pandemi : Bila Pandemi adalah PD III

Ngobrol-ngobrol dengan pasangan saat sahur. Awalnya random banget, dari yang klenik soal babi ngepet di Depok sampai kapal selam.πŸ˜‚

Terakhir, mengerucut jadi bahas masalah pandemi gara-gara kasus tsunami COVID di India

Sebagai penggila sejarah di bagian perang-perangan, walau gak ahli-ahli banget, saya iseng nyeletuk sambil menyantap bakwan teri hangat yang nyelip diantara piring lontong opor.

“Kalau pandemi adalah perang, PD III, gimana peta kekuatan dunia sekarang?”

Langsung orangnya berbinar-binar tertarik dan kita bahas, deh. Mirip saat lagi main boardgame. Btw. kita itu demen main boardgame Pandemic yang temanya gimana nyelamatin umat manusia dari virus jahadd. 😬

Saya dan dia lalu menganalisa…eits, bukan analisa ahli cuma analisa bodoh-bodohan sambil nunggu shubuh πŸ€£πŸ˜‚

Jadi yang kebanyakan nggak keru-keruan kena serangan COVID dan sempat nggak terkendali kebanyakan adalah blok barat negara-negara  demokrasi : Amerika, Inggris, Prancis, Italia, dsb. India juga masuknya sekutu Inggris.

Ngeliat petanya dari sini

Negara sosialis Marxis-Leninist otoriter macam Cina, Rusia, Vietnam, Korea Utara, sepertinya adem ayem tampak terkendali.πŸ™„

Lalu negara kerajaan, yang bukan campur sistem demokrasi, seperti Arab, itu juga kurvanya turun.

Mulai mikir, saat kondisi darurat pandemi begini sistem pemerintahan yang berlandaskan kepatuhan dan otoriter (pengecualian New Zealand dan Australia) terlihatnya efektif.

Mengapa negara dengan level demokrasi rendah malah tampak terkendali dalam tangani pandemi?

Kita singkirkan masalah teknis seperti transparasi data dulu, deh.πŸ˜…

Mungkin karena di negara-negara seperti itu masyarakatnya di doktrin patuh, harus dahulukan kepentingan orang banyak, mengecilkan hak individu alias diri sendiri (walau itu di bawah ancaman). Sementara di negara Barat dimana individu di hargai haknya, jadi lebih sadar diri dan cenderung individualis. Efeknya ya kurang patuh, suka seenake dewe, dikit-dikit demo dan protes.

Kamu bisa membayangkan nggak saat COVID gini ada demonstrasi menentang lockdown di ….Cina? Atau Korut? Atau Arab?

Pandemi sendiri mirip kondisi darurat perang. Yang dikedepankan adalah kemenangan sebagai pasukan. Patuh pada satu rantai komando.

Kebayang kan mau melawan serangan musuh Jendralnya pusing karena ada prajurit yang nolak bangun tidur karena “Maaf, ndan, ini  hari libur saya!”πŸ˜‚ Saat dibilang serang musuh ke kanan, larinya ke kiri.πŸ€ͺ

Tapi itu memang kembali ke siapa Jendral perangnya dan kondisi medan tempur, ya. Faktor geografi dan demografi. Sebagai contoh New Zealand yang diuntungkan oleh kondisi geografi, jumlah penduduk, dan kebetulan model komunikasi PM yang baik. Australia juga terbantu oleh kesigapan dan posisi geografisnya.

Kelihatan sekali pandemi ini betul-betul ujian bagi beberapa negara diatas. Kalau ini perang, yah..terpampanglah siapa blok yang bertahan dan yang rentan krisis.

Mungkin itu kesimpulannya. πŸ™„

Kita mulai nggak fokus karena sibuk menyelesaikan makan sahur.🀣 Masih ada beberapa cemilan yang bikin kenyang dan berakhir dengan minum air sambil mengudap kurma dingin.πŸ˜‹ Lama setelahnya, adzan shubuh berbunyi.😊

Begitulah sedikit analisa bodoh saat sahur. Kayaknya ini efek kelamaan kita nggak main boardgame πŸ˜‚

Kamu punya pengamatan apa? Saat sahur tema obrolanmu suka ngalor ngidul gini juga nggak? πŸ˜„

8 respons untuk β€˜Cerita Pandemi : Bila Pandemi adalah PD III’

    1. Kita nggak bahas Indonesia kemarin. πŸ˜…Tapi saya jawab deh. Ini sudah sering kita diskusi juga.

      Jadi pada dasarnya ada dua prioritas dlm tanggulangi Covid : dahulukan ekonomi atau kesehatan. Negara yg otoriter, kebijakan ekonomi dan kesehatan kendali penuhnya ada di negara. Nah. Negara demokrasi rata-rata ekonominya kapitalis, sebagian besar kewenangan ada di pasar.πŸ˜€

      Indonesia yg mana? Kita tuh, ya, dari sejak negara berdiri demen ambil yg baik-baiknya dari sistem kiri kananπŸ˜‚ Tapi kalau teledor, yg keambil malah yg jelek-jeleknya. πŸ€ͺ Karena di tengah-tengah, peran leader yang tegas besar. Leadernya jelek, ya wassalam. Terutama sejak ada menkes baru penanganan COVID jauh lebih OK. Contohnya ada himbauan pelarangan mudik tegas. Moga-moga bisa terhindar dari kondisi spt negara yg krisis.πŸ˜…

      Suka

  1. Dah diduga jawabnya.. hahaha apakah itu karena politik “main aman” atau “ada pengaruh budaya Jawa Pheb” yang polanya ga mau ke kanan atau ke kiri, maunya di tengah.

    Pada akhirnya soalnya dalam penanganan Covid-19, di sana sulit terlihat ketegasan dan keberanian bersikap tegas. Yang ada, semua main aman..

    Disukai oleh 1 orang

  2. benar sekali.. di Eropa, penanganan pandemi begitu rumit karena “demokrasi” dan “hak warga”.. πŸ˜… tapi kalo disuruh memilih, ku lebih memilih tinggal di negara demokrasi, sih.. πŸ˜…

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s