Ogah Nulis Topik Sensitif?

Pernah sekali dua kali ada reply pengunjung blog yang intinya bilang belum berani bikin topik yang “sensitif”.

Takutnya orang tersinggung, atau memikat mereka yang doyan debat.

Memang blog membawa karakter penulisnya dan orang-orang phlegmatis terutama paling menghindari hal-hal merepotkan seperti di atas. Walau nggak dipungkiri ada kalanya yang sanguin, kolerik, dan melankolik juga malas konflik ya.

Tapi kultur juga ngaruh, sih. Terutama Asia, khususnya Indonesia yang lebih mengutamakan musyawarah untuk mufakat (kebanyakan baca PKN detectedπŸ˜‚).

Topik-topik sensitif biasanya itu model :

SARA, suku, ras, agama, antar golongan. Tahulah kita dari SD wanti-wanti soal ini.

Pilihan politik. Ini bisa sampai bikin hubungan keluarga putus tus padahal tokoh yang dipertengkarkan saja saling bergandengan tangan.πŸ˜‚

Lalu topik-topik yang ada hubungannya dengan pilihan hidup wanitaaaah.πŸ€£πŸ˜‚

Contoh : bekerja vs di rumah, caesar vs normal, ASI vs sufor, childfree vs punya anak.

JANGAN..I mean jangan coba-coba cablak mengutarakan pendapatmu apa adanya soal topik diatas tanpa dipoles-poles dulu (biar lebih cakep dibaca).

Better di review ulang sekian kali, kalau perlu minta opini orang terdekat….kecuali kita siap bonyok karena di bully berjamaah..πŸ€£πŸ˜‚ Orang yang bicaranya paling cabe diantara paling cabe pun bisa langsung diulek jadi sambel terasi secara online!

Apalagi netyjen Indo itu sudah terkenal akan reputasi gahar dan jumlah pasukan di dunia mayah πŸ˜…

Sebetulnya, menurut aku, nulis topik sensitif nggak apa-apa. Asal bahasanya santun, logis atau ilmiah. Kalau bisa sambil diselingi bercanda dan banyak pakai kalimat tanya/bersayap.

Supaya yang aktif saat orang baca itu otak kiri bukan kanan. Daaan….memang waktu nulis kita itu harus bebas dari prejudice dan emosi negatif. Kerasa lho, kalau kita itu lagi menulis sebuah topik dengar perasaan sebal, ketimbang saat lagi ketawa-tiwi.πŸ€ͺ

Resikonya kalau ada yang tersinggung gimana? Kita bisa nggak disukain dong..😨

Jujur saja, menurut aku susah, sih kalau urusan perasaan. Kita bagaimana pun berusaha nggak bisa bikin semua orang suka.😩

Contoh, kasus tulisan yang “harmless” soal menyiapkan bekal makanan…Walaupun isinya tips, teteeep ada aja yang tersinggung.😫 Mungkin karena merasa dirinya tidak capable bikin sampai sedemikian rupa. Atau gambaran istri ideal mendadak jadi demikian berat.😳😱 Sampai punya “tema” masa kecil dimana ibunya susah payah menyiapkan bekal sementara bapaknya memakannya dengan wanita lain #bikinplottwist😬

Tiap orang punya “tema” sensitif masing-masing di dunia nyata, yes, bisa terpicu hanya dengan stimulus biasa banget. Tapi jadinya salah siapa dong? Ya nggak ada yang salahlah..😩 Wong yang nulis niatnya baik, kok. Yang baca seringkali nggak nyadar kalau dirinya punya “tema”.

Lalu apakah ketakutan-ketakutan akan penerimaan orang lain akhirnya menghambat diri untuk mengutarakan pandangan? πŸ™„

Sayangnya kebanyakan begitu…sampai….ketemu lingkungan yang benar-benar menghargai pandangannya. Dan dapat AHA moment,

“Oh ternyata berpikir begini gak apa-apa.”

Masalahnya lingkungan istimewa itu juga nggak akan pernah ditemukan bila tidak dicari atau ditarik perhatiannya..πŸ˜…

Kadang it’s worth a try.

Above all, ada unsur edukasinya juga, yaitu jadi tahu cara berpikir yang berbeda. Selama ini misalnya aku teleskopnya dari atas terus. Kalau dari samping keliatannya gimana. Kan menarik. Atau bila suatu pernyataan agak belok setidaknya ada yang benerin supaya nggak bablas.

Lalu aku juga berlatih menyiapkan ruang untuk kemungkinan lain. Gelasnya tidak selalu penuh terus gitu πŸ˜‰ Bisa jaga hati supaya nggak merasa diri selalu benar.

Tentu saja yang aku bicarakan adalah tulisan yang sifatnya beradab ya dan nggak nyaranin juga jadi blak blakkan to the point seperti orang Prancis.πŸ˜„ Karena walaupun bagi si pembicaranya seringkali nggak masalah, pemirsanya yang nggak siap. πŸ˜†Nggak semua orang di kultur Asia kuat mental dengan beda pendapat, kecuali jauh hari sudah ditempa oleh lingkungan yang mendukung.

Based on my experiences, semakin homogen sebuah lingkungan, semakin sulit juga menerima pendapat baru…makanya penting banget bagiku untuk banyak bergaul kanan kiri untuk minimal ngertilah apa sudut pandang orang yang beda denganku. Selama akunya sendiri nggak lagi labil, yah?πŸ€£πŸ˜‚

Kamu sendiri pernah nggak nulis topik sensitif? Gimana perasaanmu saat dan setelah selesai menuliskan? 😁

12 respons untuk β€˜Ogah Nulis Topik Sensitif?’

  1. Kayaknya kalau di Indonesia, menulis topik sensitif disertakan dengan scientific evidence juga selama ada yang gak sepakat bakal dilibas juga. Pokoknya mentalnya di sini tuh kayaknya gak boleh banget beda ya? Harus sama dengan mayoritas. So sad gak sih?

    Disukai oleh 2 orang

    1. Hahaha sering ada kasus begitu ya mbak Kimi? πŸ˜‚
      Kalau saya sudah lihat beberapa tokoh yang caranya aluus sambil membawa data. Yang nanggapin rata-rata positif. Atau mungkin karena ilmiahnya yang ngegas kebingungan sendiri buat paham ya? πŸ˜‚πŸ€£

      Suka

      1. sering banget lihat yang seperti itu di Twitter πŸ˜… Kadang ada doctor ngomong A, B, C sesuai fact dan science tapi masihhh ada aja yang julid πŸ˜‚. That’s why, aku jadi takut untuk mengutarakan pendapat di internet, Kak Pheb. Aku biasanya diskusi sama teman-teman aja kalau ada topik yang viral gitu soalnya mentalku belum siap untuk β€œdiserang” secara massive ya.

        Disukai oleh 1 orang

      2. Oh soal Covid ya.πŸ˜… Haha cari pelampiasan frustasi mungkin…

        Maksud saya bukan untuk tulisan di medsos mbak Lia. Itu boleh tapi level gaharnya terlalu advance 🀣 Yang selow-selow saja spt blog….πŸ˜…

        Suka

  2. Kenapa tidak? Hahahahaha…. Perasaannya biasa saja. Toh bersikap biasa pun tetap akan ada orang yang tidak suka, jadi kenapa harus dipikirkan? Kenapa saya harus memikirkan pendapat orang lain tentang saya, dibully yah cuma omongan doang ga sakit.

    Hahaha dah beberapa kali ngalamin semasa pandemi di twitter, juga waktu pemilu di FB.. hahahahaha..jadi dah biasa.

    Disukai oleh 3 orang

  3. dulu banyak blog-blog kritis bertebaran. debat terjadi di kolom komentar atau berbalas tulisan blog. kini debatnya pindah ke media sosial.

    untuk urusan debat dan tersinggung, sebenarnya juga dah biasa. biasa lupa.. paling rame, terus lupa (terlepas ada klarifikasi atau permintaan maaf)..

    yang bikin ngeri sebenarnya adalah UU celaka ITE itu. itu yang bikin aku malas menulis soal konten sensitif. kalo cuma orang tersinggung sih ga masalah. tersinggung terus bawa ke jalur hukum, bikin malas.. πŸ˜†

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s