Cerita Pandemi : Terima dan Adaptasi !

Cerita lagi, ah, tentang dunia “New Normal” di Indonesia. Bagaimanapun ini adalah catatan momen bersejarah yang berharga.

Well, aku melihat banyak perkembangan positif, sih setelah ada menkes baru. Sepertinya semua relatif lebih tertata dan terukur, ya. Walaupun memang ada gonjang ganjing tentang apakah yang jadi menkes harus berlatar belakang kedokteran. Tapi tampaknya pengalaman berlatar belakang manajemen jauh lebih efektif di masa darurat. Menurutku, lho, ya.

Sebagai contoh adanya penetapan pembatasan pergerakan di wilayah-wilayah zona merah. Jadi modelnya nggak total lockdown gitu, tapi di persempit ke area kecil-kecil. Jadi dilihat penyebarannya dimana. Disebut PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat).

Ketika aku berkunjung ke Depok, melihat sendiri penerapannya, ada peringatan-peringatan tentang zona merah dan ada batasan ketat. Agak menakutkan memang bagi mereka yang daerahnya bukan zona merah.πŸ˜…

Vaksin juga mulai beredar dan vaksinasi berdasarkan prioritas seperti nakes, orang tua, TNI, dan mereka yang dianggap garda-garda depan perekenomian negara. Ohya, influencer kayak Rafi Ahmad tentu perkecualian ya. Vaksinnya Sinovac. Efikasinya nggak segede yang lain tapi efek samping negatif bagi yang di vaksin rendah.

Bagaimana suasana dunia nyata? Macam-macam. Ada yang prokes-nya mulai kendor, ada yang malah mulai terbiasa. Tergantung siapa “mandor”-nya di lingkunganmu. Kalau mandornya cerewet bin bawel (plus parno) πŸ˜… bisa dipastikan jangan coba-coba datang tanpa masker!

Sekolah-sekolah juga mulai siap-siap mau masuk lagi. Walaupun wacana ini bikin ketar-ketir banyak pihak : bagi guru-guru yang belum di vaksin, juga bagi orang tua. Soalnya belum ada vaksin COVID-19 buat anak-anak. Setahuku paling banter untuk usia 16 tahun tapi bukan dari Sinovac.πŸ€”

Ironisnya, India, yang dijadikan contoh keberhasilan mikro lockdown, sekarang lagi krisis karena ada gelombang baru mutasi Corona. Thailand juga, sampai nyiapin ranjang-ranjang di bangsal dari kardus, lho 😲

Kan India sudah ada travel ban? Eer…sebelum itu terjadi, beritanya jauh hari sudah bocor, orang-orang the have dari India pada carter pesawat pribadi bahkan ada yang nge-book satu pesawat sendiri untuk kabur ke negara-negara lain. Salah satunya ke Indonesia. Untung sudah berhasil di alokasikan dan isolasi. πŸ˜…

Cuma kebayang nggak bagaimana susahnya ngatur orang. Ya kalau nggak bawa virus yang sudah mutasi itu. Kalau iya?😬🀯

Yang di waspadai pemerintah adalah mudik lebaran. Tiket-tiket bus pulang kampung mulai dibanjiri calon pemudik. Walaupun ada larangan mudik. Ya tahu sendirilah….

Tantangannya, gimana cara untuk tetap logis saat di sekitarmu sudah banyak yang… apa ya namanya...halu bahwa semua sudah back to normal (menurutku). Halu untuk ukuran masa pandemi, lho. Bukan di masa lalu. πŸ™„

Duluu, saat pertama ngadepin ginian, aku suka berisik berdesis-desis sendiri seperti ular 🐍, kalau menyaksikan banyak keputusan-keputusan di sekitarku yang mau nekad untuk kelayapan bahkan ke desa-desa,

” It doesn’t make any sense!”

Lama-lama. Aku menerima bahwa… it does make sense. πŸ€Έβ€β™€οΈπŸ€Έβ€β™‚οΈ

No. Bukan tentang keputusannya, tapi bagaimana di perkara yang paling clear sekalipun -seterang matahari siang- akan bahayanya, selalu ada yang bersikap berbeda denganmu. Terutama bila background pendidikan dan cara berpikir beda. Model komunitas satu dan lain bisa 180 derajat. Yang tidak masuk akal buatmu, buat yang lain belum tentu.

Ada orang yang cari aman, membatasi kumpul-kumpul banyak dan tidak kelayapan, tanpa alasan penting dulu.

Tapi ada juga orang yang pegang motto “hidup harus tetap berjalan normal” dengan resiko apapun (bagi sendiri dan kadang orang lain)!

Yang terakhir ini, konsekuensinya, kudu patuh protokol kesehatan ketat dan disiplin.

Sayang, pada prakteknya, nggak semua orang bisa teguh kukuh konsisten…dan lingkungan di sekitarnya, bila ngeliat contoh seperti itu, merasa tergoda, hingga akhirnya mengikuti. Tapi yang dicontoh cuma ngelayap dan ngumpul-ngumpul ramai doang, bukan prokesnya. 🀣

Kalimat hipnosis sakti umum yang biasa dipakai,

“si A aja tadi gitu dan baek-baek saja.”

Dan semakin kita berkumpul dengan banyak orang, makin rentan tertular halu. Mass hypnosis, namanya. Menarik, sih, kalau diperhatikan, bagaimana di masa pandemi ini kita sebetulnya jadi saksi hidup bentuk-bentuk mass hypnosis terbesar yang pernah ada.πŸ™„

Emosi dan stress nggak lihat orang-orang yang abai anjuran kumpul-kumpul dalam jumlah banyak dan prokes?

Yay. Sudah lewatlah masa-masa itu …mau kesal atau gemas toh yang beginian akan tetap ada, cyiiin.πŸ˜‚ Mau diapain lagi coba. Banyak-banyaklah kita, manusia, belajar beradaptasi dari hewan-hewan yang tinggal di hutan. πŸ˜† Mereka “kan nggak pakai misuh-misuh. Tapi adaptif, berstrategi supaya tetap bisa makan dan hidup hingga beranak pinak.

Intinya, tinggal dihadapin aja yang seperti itu dengan kecerdikan.πŸ˜… Seperti usaha survive in the jungle. Nggak perlu berisik. Temukan caramu sendiri supaya bisa berkelit dan selamat sampai tujuan. Anggapan orang lain nggak usah dipikirin.

At least, jika itu berhasil, tahap satu syarat kesehatan mental sudah dilalui, yaitu menerima kenyataan dan beradaptasi...πŸ˜….

Kenyataan bahwa pandemi belum berakhir dan betapa beragam reaksi manusia atasnya, yang harus kita hadapi.

Eh. Ciyus, banyak lho yang sebenarnya stress dan depresi karena nggak bisa menerima kenyataan. 😬 Termasuk yang akibatnya jadi apatis…alias sebodo amat…

Demikian sekilas update cerita pandemi. Kapan-kapan aku cerita lagi tentang impact-impact pandemi yang tak terlihat di keseharian.πŸ˜„

Ayo. Kamu punya cerita juga?

Gambar : knowyourmeme.com

6 respons untuk β€˜Cerita Pandemi : Terima dan Adaptasi !’

  1. di Jerman yang sekarang masih lockdown ini banyak juga warga yang ngeyel. bahkan demo menentang karena menganggap pembatasan dan lockdown mengekang hak manusia. ngga banyak sebenarnya jumlahnya, tapi berisik dan rutin demo tiap pekan.

    menurut survei, warga pengen lockdown diperketat, tapi di sisi lain, banyak warga melancong liburan musim panas.

    vaksinasi juga tidak selancar rencana, dan kini malah dah hampir masuk gelombang ketiga

    kaminl sendiri berusaha patuh dengan aturan pemerintah. dan memang karena lockdown dan banyak toko tutup, atau minimal syaratnya diperumit dengan misal harus menunjukkan hasil tes antigen negatif di hari yang sama pada kunjungan, yang mana untuk dapatin hasil tesnya kudu bikin jadwal dan antre.

    kita lihat saja bagaimana ini nanti kelanjutannya..

    Disukai oleh 2 orang

    1. Macam-macam ya reaksi manusia. Iya pahamlah sudah jenuh dan stress dengan pembatasan. Apalagi musim panas kan identik dengan libur berjemur ya.

      Susah juga ya syaratnya diperumit. Disini masih terbantu dengan banyak fasilitas sebetulnya.

      Moga-moga cepat berlalu permasalahannya ya..

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s