Cerita Pandemi : Ramadhan Kedua di Masa Pendemi

Alhamdulillah masih bisa ketemu Ramadhan lagi. Walaupun memang, nggak seorangpun menyangka, kita semua umat muslim masih harus menjalaninya ala-ala pandemi begini untuk ke DUA kali. Rasanya agak-agak gimana begitu karena tanpa kehebohan seperti kalap belanja bukpus ke supermarket jelang ramadhan. Atau ngabuburit di jalanan. Sebuah tradisi yang di pause dulu.

Tentu ada yang masih memilih untuk mengalami itu semua, tapi saya sekeluarga cari yang aman saja. Bukan sesuatu yang harus dipaksakan, bila memang lebih banyak memberatkan. Islam sendiri mengajarkan banyak hal yang mempermudah, jadi kenapa harus dipersulit atas nama tradisi.

Perbedaannya, dengan Ramadhan tahun lalu, yang kedatangannya hanya berbarengan beberapa bulan sejak masuknya COVID 19 pertama, kali ini semua orang sudah “terbiasa” dengan protokol kesehatan, vaksin sudah ada di lapangan. Relatif lebih siaplah, ketimbang tahun kemarin yang masih terkesan “mencekam” suasananya. Sebab semua masih meraba-raba dalam ketidak-jelasan.

Again, itu sesuatu yang layak disyukuri.

Mudik memang masih dilarang, lagi-lagi maklum, karena memang umat Islam adalah yang terbesar penganutnya di Indonesia. Bisa di bayangkan kalau terjadi perpindahan secara besar-besaran ke kampung. Padahal belum semuanya di vaksin. Mau swab satu-satu kebayang, deh. Bisa-bisa melahirkan oknum yang manfaatin surat keterangan sudah swab.

Kasian, sih, yang tinggalnya sendirian di kota, keluarganya di kampung. Nggak bisa mudik pas Ramadhan. Tapi (moga-moga) yang seperti ini nggak berlangsung selamanya, dibanding keseluruhan hidup kita. Bertahan hidup jauh lebih penting sekarang ini.

Musti waspada itu kalau jadi kena penyakit mager saat Ramadhan…Makanya saya nyiapin juga alat olah raga seadanya untuk dipakai jelang buka puasa. Mau maksain olah raga pagi…saya nggak bakalan sanggup. Lemas nggak keru-keruan setelah itu biasanya.

Godaan berikutnya mengendalikan rasa…lapar. Tahu sendiri kan kalau jelang buka puasa, yang kepingin dimakan rasanya malah mejanya bukan hidangan wkwk

Finally, mohon maaf lahir bathin ya guys, bila ada salah kata dan perbuatan. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi teman-teman muslim. Semoga kita bisa konsisten dengan niat memperbaiki diri di bulan Ramadhan. Jangan lupa jaga kesehatan dan tetap 3 M (pesan sponsor)

Bagaimana rasanya Ramadhan kamu kali ini?

9 respons untuk β€˜Cerita Pandemi : Ramadhan Kedua di Masa Pendemi’

  1. Saya senada dengan quote Mbak Phebie β€œIslam sendiri mengajarkan banyak hal yang mempermudah, jadi kenapa harus dipersulit atas nama tradisi.” ❀️

    Selamat menjalankan ibadah puasa Mbak Phebie, semoga kita bisa menikmati dengan senang hati bulan yang penuh rahmat ini. Aamiin

    Disukai oleh 1 orang

  2. Dimaapin dimaapin.. hahaha

    Yah, puasanya biasa saja dari imsak sampe maghrib. Hahahaha

    Jalani saja dan nikmati. Semoga saja pandemi cepat usai jadi kita bisa merasakan puasa yang agak lebih gimanaa gitu.. wakakakakak….

    Saya juga masih sama seperti Phebi kok…hahaha.. masih parnoan

    Disukai oleh 1 orang

  3. Ramadan tahun kemarin dan tahun ini tantangannya juga berbeda. alhamdulillah puasa tahun ini waktunya tidak sepanjang tahun kemarin. semoga puasa kita lancar hingga sampai nanti lebaran tiba dan dipertemukan dengan Ramadan berikutnya!

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s