Bicara Bipolar

Aku kemarin belajar tentang bipolar. Nggak banyak, tapi ada beberapa yang perlu kucatat disini.

Sudah sering kita dengar kasus artis-artis dalam dan luar negeri yang mengumumkan bahwa dia mengidap “bipolar”. Orang awam pun akhirnya latah, alias melakukan diagnosa sendiri. Yaitu saat merasakan ciri-ciri yang digambarkan seseartis. Kemudian menyimpulkan ah saya kena bipolar juga. Jadi seperti trend! Atau mungkin mikirnya gini, masih mendingan bipolar daripada schizopernia ‘kan. Yang pertama kan penyakitnya orang-orang terkenal (padahal kalau mau pilih-pilih, sih, banyak selebritis yang psikotik juga, such us Salvador Dali).

Nah. Ini sebetulnya jadi lucu ya. Padahal kelainan ini sendiri kan suatu bentuk gangguan kejiwaan, yang belum bisa diobati tanpa harus minum obat dan disiplin kuat. Bisa sampai suicidal juga. Salah satu penyandangnya yang terkenal di seluruh dunia adalah Robin Williams.

Salvador Dali (gambar : zetizen.radarcirebon.com}

Sebagai info, penyandang bipolar itu punya dua fase, depresi dan manik (mania). Nah, saat di fase manik ini mereka itu punya energi yang berlebihan. Bersemangat dan happy. Tapi sifatnya tidak terkontrol. Minat penyandangnya di fase ini, kalau kita amati, luar biasa beragam. Pindah dari proyek satu ke yang lain. Sayang, kelihatannya saja produktif, padahal hampir dipastikan dia tidak mengerjakannya dengan tuntas. Mungkin karena sifatnya yang sulit fokus dan uncontrollable itu.

Di fase depresi, penyandang bisa kehilangan minat, marah-marah, emosional, dan merasa terpuruk. Bisa sampai punya keinginan bunuh diri. Mood swing antara depresi dan manik itu sangat ekstrim bagi penyandang bipolar. Terjun bebas istilahnya.

Kemudian yang penting adalah, kurang tidur dan sinar biru bisa jadi trigger atau memperparah penyakit ketidak seimbangan hormonal ini. Walaupun bipolar sendiri lebih banyak terjadi karena faktor genetik, ya. Untuk perbandingannya, bila kita tidur 8 jam dalam 3 hari saja, itu adalah dosis yang sama dengan minum lithium (obat mengatasi gangguan mood).

Makanya jam kerja normalnya di Barat itu nggak sampai overtime. Karena mereka ngerti bahayanya bagi kejiwaan. Apalagi kalau sampai kurang tidur. Perlu waspada kita, deh. Terutama jika kita merasa punya energi luar biasa untuk bergadang. Itu nggak normal sebetulnya, ya. Bisa karena dua hal, pola hidup tidak teratur sehingga ritme sirkadiannya kacau, atau ada penyakit mental semacam ini yang perlu diwaspadai.

Gadget dan laptop, sumber masalah tidur (sumber : pixabay.com)

Sekarang sinar biru. kenapa sinar biru itu bahaya? Karena dia menghambat hormon melantonin (yang membuat kita tidur). Makanya guys, jauhi deh pegang gadget sebelum bobok, kalau nggak mau mata nyalang overthinking semalaman dan bikin ketidakseimbangan hormon.šŸ™„

Pemicu lain, yang mungkin di Indonesia jarang ya, adalah konsumsi alkohol. Kalau di Barat alkohol kan memang biasa dipakai kalau seseorang lagi stress.

“Give me a drink” begitu.

Sayangnya kebiasaan ini bisa membuat gejala yang ada makin menjadi-jadi. Makanya selebritis Hollywood yang kena bipolar diet alkoholnya pasti ada dan ketat banget.

Bipolar walaupun nggak bisa disembuhkan, bisa dikontrol dengan pola hidup yang bagus. Banyak penyandangnya bisa hidup normal. Yang penting memang perlu konsultasi dengan ahlinya, ya, guys. Mungkin bisa dirunut dari gejalanya diatas. Yaitu adanya fase manik (jadi nggak ketuker sama yang mirip-mirip yaitu borderline).

Apakah kamu ingin menambahkan atau mungkin punya cerita?

10 respons untuk ā€˜Bicara Bipolarā€™

  1. Waduh…. saya kurang tidur nih. Betah begadang. Jarang pegang hape kalau mau tidur tapi tetap saja sulit tidur.
    Sulit fokus dan kadang pindah dari proyek yang satu ke proyek yang lain… waduh.. berarti tambah deh gejala yang mendukung saya bipolar…
    Waduh.. waduh.. waduh.. tambah waduh dah…
    Tapi, yo wis, ga papa deh, saya jadi keliatan keren juga kan.. kayak ngartis.. šŸ˜€

    Disukai oleh 1 orang

  2. Iyalah Pheb.. Saya baca sedikit tentang bipolar dan memang ini termasuk penyakit yang serius.
    Juga memang seharusnya, masyarakat tidak semudah itu memainkan jurus cocokologi pada diri sendiri, lalu menyebutkan dia mengidap yang satu ini…
    Terus terang, saya mah ogah mengalaminya.
    Kalau soal kurang tidur mah, memang sudah dari dulu saya tukang ngalong.. waakakak makanya jadi kebiasaan..

    Disukai oleh 1 orang

  3. Dulu waktu remaja saya orangnya moody-an banget.. Gampang stress, kalo udah stress parah itu sampai kepala sakit luar biasa dan baru bisa hilang kalo sudah dipentokin ke tembok. Beruntungnya mama langsung ‘ngeh’ dengan kebiasaan aneh ini, dan Alhamdulillah saya terselamatkan.. Saya gak mau bilang kalo saya bipolar atau enggak, karena kejadian gak bisa mengontrol emosi itu sudah lama banget, karena dari kecil terbiasa di-bully sama orang-orang di sekitar rumah, kakak kelas, teman2 di sekolah dan termasuk keluarga besar sendiri. Lalu timbul pikiran gak berguna (padahal nilai sekolah saya bagus dan selalu peringkat atas), saya sering di-bully krna fisik juga.. Tapi semakin dewasa, saya dekat dengan kedua orang tua saya, saya jadi bisa lebih sabar lagi dan gak menyimpan kekesalan sendiri. Waktu remaja dulu bukan cuma stress, tapi asam lambung saya pun ikut naik.. Hehehehe..

    Suka

  4. aku ngerasa betul saat pindah ke Eropa, ritme kerjanya benar-benar berbeda. orang Asia, entah kenapa punya ritme yang lebih cepat, lebih “ngoyo”. sementara di Eropa, lebih santai. mungkin doktrin “cuan cuan cuan” begitu kuat tertanam dalam benak karena ditularkan secara turun temurun.
    soal stres, di sini juga dukungannya lebih baik padahal. akses ke fasilitas kesehatan dan psikologi juga gampang, dibandingkan di Asia. tapi ya lagi-lagi, pasien kadang tidak merasa “sakit” dan akhirnya tidak berobat atau mencari pertolongan.
    soal sinar biru, di beberapa gagdet, terutama layar monitor, ada opsi mengurangi sinar biru ini. tapi bukan berarti bisa terus menerus menghadap layar juga, sih..
    oiya, baru tahun ini rasanya aku merasakan apa yang orang bilang dengan “winter depression”, karena kurangnya sinar matahari. makanya orang sini tergila-gila dengan matahari karena memang terbatas, sementara kita di Indonesia lebih sering “take it for granted” karena hidup di katulistiwa.

    Disukai oleh 1 orang

      1. salah satu caranya ya berjemur dan ketemu matahari.. šŸ¤£
        bisa juga dengan minum pil vitamin D untuk menggantikan fungsi pembentukan vitamin D yang kurang karena minim sinar matahari..

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s