Tangan Kiri Tidak Perlu Tahu

Bulan Puasa makin dekat, jadi pengin bahas tentang pemberian.

Sewaktu kecil saya pernah mendengar ungkapan,

“Kalau tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu.”

Peribahasa itu bagi anak kecil mungkin sangat membingungkan. I mean, bagaimana mungkin tangan kiri nggak tahu kan satu badan satu kepala??

Setelah belajar tentang kalimat peribahasa baru saya tahu artinya. Kalau berbuat kebaikan atau bersedekah sebaiknya nggak perlu dipublikasikan atau terang-terangan.

Pernah baca entah di media mana, seorang selebritis Indonesia yang meninggal muda pernah jadi donatur tetap sebuah yayasan yatim piatu. Tapi dia melakukannya diam-diam alias incognito. Tidak seorangpun tahu, termasuk anak istrinya. Saat dia telah dikuburkan pemilik yayasannya cerita ke istrinya. Istrinya semakin terharu.

Saya pernah ikut sebuah grup marketing dan sales. Salah satu pimpinan yang paling menonjol mempunyai jargon “berbisnis sambil beramal’ sebagai salah satu brandingnya. Dan anak buahnya mengikuti perilaku ybs dengan luar biasa. Grup dan media sosial dibanjiri oleh foto-foto ketika anggota sedang menyumbang, bertemu orang susah, dsb.

Walaupun begitu ada juga yang mengkritisi, “Kalau beramal lebih baik diam-diam saja.”

Menimbulkan pertanyaan, sebetulnya mana yang sebaiknya dilakukan sebagai individu? Individu lho, ya, bukan grup. Berbaik hati, beramal dan membantu orang lain dengan diam-diam atau perlu diwartakan?

Maklum sekarang muncul istilah baru milennial semacam “pencitraan”, “branding”, dsb, dsb. Jadi kalau ada seleb, pejabat, politikus, perusahaan, atau institusi menyumbang, istilah itu jadi dasar logika alasan perbuatannya. Apalagi di jaman medsos dan internet begini. Publikasi serta branding adalah segalanya.

Sebetulnya apa alasan tangan kiri tidak perlu tahu?

Mungkin maksudnya untuk menjaga kemurnian keikhlasan diri penyumbang, kali, ya. Ini berarti kita ngomongin yang sifatnya spiritual. Kalau niatannya untuk dapat pahala dan amal jariyah, tentu akan jadi agak belok saat kita mikirin, kira-kira ada berapa orang yang tahu, ya? Apa setelah ini orang akan lihat betapa aku adalah orang baik dan murah hati?

Sementara kalau nggak ada yang tahu, kan bisa fokus memang untuk amal. Nggak mikir ini dan itu nanti bagaimana.

Catatan saja, maksud saya walaupun sekampung gak ada yang tahu, saat nyumbang kita itu tetap pakai nama atau kontak yang jelas ya. Bukan anonim. Soalnya nama anonim itu sangat rawan unsur penyalahgunaan, guys.

Bila seseorang memilih saat beramal dan membantu itu dipublikasikan, dampak positifnya orang jadi terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Untuk membantu orang lain kadang diperlukan juga pewartaan masif agar makin banyak donatur.

Jadi semua memang punya poin plus sendiri-sendiri. Dan minus.

Mau pilih mana? Balik ke masing-masing.

Mau diam-diam sehingga keikhlasan hati terjaga, tapi sedikit orang yang tahu meaning tidak ada yang terinspirasi. Atau di wartakan sehingga banyak orang ikutan nyumbang, namun resikonya niatan hati beresiko belok karena tergoda oleh harumnya aroma pencitraan dan puja puji.

Yang tahu niatan seseorang hanya seseorang itu sendiri. Kita cuma bisa berprasangka baik. Tapi kalau untuk diri sendiri, akan lain ceritanya, bukan?

Mungkin bisa pakai jalur tengah (lagi-lagi orang moderat ngomong). Ada kebaikan yang memang sebaiknya dilakukan incognito dan ada yang perlu publikasi. Untuk yang terakhir ini beneran harus jujur pada diri sendiri, kalau diri susah menjaga hati paling aman ya seperti artis diatas, diam-diam saja. Ini kayaknya nyentil diri daku juga, sih wkwkwk..#masihbanyakdosa

Semua hal diatas, umumnya jadi pertimbangan siapapun, yang niatannya mau ke arah agamis atau spiritual. Alias hitungan-hitungan yang bertujuan untuk mendapat pahala. Bila kamu nggak percaya hal semacam itu ada atau merasa yang begituan nggak perlu dipikirin, tentu saja semuanya jadi tidak berlaku. Barangkali bisa mencari alasan masing-masing, karena ini sifatnya sangat pribadi.

Kamu sendiri, bagaimana pendapatmu?

2 respons untuk ‘Tangan Kiri Tidak Perlu Tahu’

  1. repot juga ya soal beramal ini. di satu sisi, tidak mempublikasikan lebih ke untuk menjaga dari sifat riya, tapi di sisi lain bisa menjadi ajakan (dengan contoh) untuk mengkampanyekan.
    selain itu, menyumbang dengan nama anonim ini juga kadang membuat repot si penerima. misal demi alasan transparansi misalnya di untuk keperluan audit.
    kalo aku pribadi, tergantung situasinya. kadang aku mengajak dengan bilang terus terang, aku menyumbang ke gerakan ini (terutama saat bencana terjadi) tanpa menyebut nominal untuk memberi contoh, dan “membuktikan” bahwa sasaran bisa dipertanggungjawabkan. namun untuk beberapa sumbangan ya aku ngga perlu koar-koar bilang.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s